Text
Laporan Penelitian: Persepsi Perwira TNI dalam Kerjasama Pertahanan Indonesia-Australia
Indonesia mengembangkan kerjasama militer intens dengan beberapa mitra strategis seperti Amerika Serikat, Rusia, Cina, Jepang dan Australia untuk meningkatkan komitmennya terhadap perdamaian dunia. Secara umum, kerjasama militer antara Indonesia dan negara-negara tersebut meliputi tiga program, yaitu pendidikan-pelatihan, pembiayaan dan pengadaan peralatan pertahanan. Dalam pengertian ini, pendidikan/pelatihan personil pertahanan telah menjadi salah satu model yang paling sering yang dilakukan Indonesia dengan bekerjasama dengan negara-negara lain. Sebagai contoh, program IMET (Pendidikan dan Pelatihan Militer Internasional) antara Indonesia dan AS yang mencakup pertukaran tentara dalam hal pelatihan teknis, kontra-intelijen dan program pendidikan master. Contoh lain dari program serupa adlah Dialog Pertahanan Indonesia-Australia Dialog Strategis (IADSD) dan forum kerjasama antara TNI-Angkatan Bersenjata Autralia dalam bentuk pembicaraan tingkat tinggi dan pejabat atau pertukaran pelajar. Meskipun berbagai kerjasama militer telah dilakukan dengan negara-negara lain, Indonesia pernah mengalami masa-masa yang sulit dalam kerja sama militer mereka. Isu pelanggaran hak asasi manusia oleh TNI pada era Presiden Suharto dan kasus referendum Timor timur menjadi masalah utama dalam membangun kerjasama militer yang kontinyu dengan negara lain, terutama dengan Amerika Serikat dan Autralia. Kemudian, melalui beberapa pembicaraan antara Jakarta-Washington dan Jakarta-Canberra, menghasilkan normalisasi kerja sama militer secara bertahap antara Indonesia-AS melalui kemitraan strategis dan Indonesia dan Australia berhasil mencapai kesepakatan dalam Perjanjian Lombok tahun 2006.
Terdapat di gudang IndoArsip dengan nomor box 19121833
| B007852 | Perpustakaan Hukum Daniel S. Lev | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain